Featured
Hujan

Tik tik tik
Aku, yang sedang menulis cerita untuk karyaku selanjutnya, berhenti sejenak. Kutatap jendela yang makin lama makin buram karena embun. Ah, hujan, pikirku
Sedari tadi aku bingung tak tentu arah. Walau aku sedang menulis cerita untuk karyaku selanjutnya, namun karanganku tak sesuai dengan harapanku. Mungkin ini yang dibilang "slump" dalam bahasa kita para penulis. Ide mengalir deras, namun ketika kutuangkan dalam rangkaian kata, hasilnya tidak seperti yang kuinginkan
Kutulis berulang-ulang, kuhapus berulang-ulang. Draft berserakan di lantai, dan aku merasa stres, tak tahu harus berbuat apa. Dalam kehehingan, bunyi rintik-rintik memukul atap, menyadarkanku dari segala kepenatan, dan disinilah aku, mengalihkan pandanganku pada butiran air yang mengalir turun melalui kaca
Sejenak aku terdiam. Aku tidak mengalihkan pandanganku walau sekejap. Dalam keheningan, kuamati butiran-butiran air tersebut, dan kurasakan hatiku mulai lega. Sejuk rasanya. Tidak lagi merasa stres, tidak lagi merasa penat. Yang ada hanyalah sensasi nyaman dalam keheningan
Jujur, aku suka sekali mendengarkan musik. Musik rock, musik pop, asalkan bukan musik dangdut. Walau orang bilang dangdut lagunya asyik, namun bagiku membuatku panik. Panik karena ngga tahan dengan ritmenya. Aku lebih suka mendengarkan lagu rock yang penuh deritan gitar listrik daripada harus mendengarkan kendang yang bikin orang joged
Meski begitu, walau biasanya musik membantuku mengerjakan naskahku, tapi tidak pada hari ini. Musik rock yang biasanya membangkitkan semangat menulisku, kini terdengar berisik di telingaku. Entah, ada apa dengan diriku ini
Seketika, kumatikan playlistku. Aku tak ingin lagi mendengarkan musik. Meski begitu, tanpa musik, aku tak lagi merasakan gairah dalam menulis naskah. Hampa rasanya, tak tahu tulisan apa yang kutulis seperti biasanya
Tik tik tik
Dalam keheningan, kucoba menyerap suara lembut rintik hujan. Rasanya tenang, menenangkan batinku yang sedari tadi bergejolak karena frustasi. Orang bilang hujan identik dengan kenangan, namun setidaknya itu tak berlaku bagiku. Aku tidak punya kenangan yang pantas untuk kurindu
Perlahan, aku merayap ke tempat tidurku. Sambil memejamkan mata, aku menikmati bunyi "tik tik tik" yang hinggap di langit-langit diatasku. Hujan lembut telah membawaku ke dalam kenyamanan yang mungkin sangat jarang lagi kunikmati di usiaku yang sudah paruh baya ini
Tik tik tik
Aku membuka mataku, sambil terengah-engah. Ternyata aku ketiduran selama 2 jam. Bunyi lembut hujan meninabobokanku, memanjakan telingaku, membuatku pulas tertidur
Aku bangun dari tempat tidurku, menatap jendela yang basah dengan air hujan. Kuamati, ternyata hujan telah sirna. Secercah pelangi terlihat dibalik kaca jendela, menarikku untuk membuka jendelaku lebar-lebar
Udara segar memasuki tenggorokanku. Pemandangan yang seharusnya biasa bagiku, terlihat berbeda kali ini. Rasanya pemandangan kali ini terasa segar sekali. Apakah ini efek hujan? Mungkin saja
Badanku terasa sedikit pegal, namun pikiranku terasa segar. Aku kembali menghampiri meja kerjaku, kembali menulis naskah yang sedari tadi tidak menghasilkan apapun. Namun, dengan mulus aku mengetik naskahku, dan rasanya nyaman sekali. Saking nyamannya, sampai-sampai tak terasa sudah hampir lebih dari 4 halaman, padahal rencanaku hanya membuat 1 halaman penuh saja. Apakah ini efek hujan? Mungkin saja
Setelah kubaca ulang, hasilnya sangat memuaskan. Diriku masih merasa heran, bagaimana bisa aku, yang dari tadi tidak bisa membuat karya seperti yang kuinginkan, sekarang dengan mudah menulis seperti ini yang bahkan melebihi ekspektasi
Kata orang-orang, hujan identik dengan kenangan. Namun bagiku, hujan identik dengan kenyamanan. Rileks. Hanya dengan mendengarkan suara hujan, hati merasa tentram. Ide-ide bertabrakan dalam pikiran, membuatku lebih mudah dalam mengerjakan tulisan
Aku pernah mendengar seseorang berkata, "rain washes away your worries, leave you in a fresh state to do your things". Kurasa memang benar adanya, dan aku merasakannya. Terima kasih, hujan
Comments
Post a Comment