Skip to main content

Featured

Pahlawanku

Dibawah pekat gelapnya langit, terbangunlah beliau Menyambut hari, yang bahkan masih terlalu dini Kegiatannya telah dimulai sejak pagi Sambil menunggu lengsernya fajar menuju langit biru Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan Pelik pun tak jadi keluhan Semua demi keluarga yang amat beliau sayangi Apa lagi kalau bukan untuk suami dan buah hati? Di balik wajahnya yang makin keriput Rasa iba ini tumbuh sesak di dalam dada Melihat sosok beliau yang berangsur uzur Tak kuat pikirku hidupku tanpa dirinya Tanpa beliau, aku bisa apa? Tanpa beliau, aku jadi apa? Tanpa beliau, aku bukanlah apa-apa! Ibuku, pahlawanku Walau aku takkan pernah bisa membalas jasamu Setidaknya kalbuku selalu melantunkan doa padamu #EmpisEmpisTemanggung #10102022

Layangan

Layangan

Terbang di angkasa

Bebas bermanuver dengan lincahnya bak burung

Akan tetapi, layangan tidaklah bebas. Senar yang dipegang manusialah yang menariknya kesana kemari dengan lincah

Layangan mau tak mau harus patuh kepada pilotnya. Pilotnya mengarahkan ke kanan, dia akan menukik ke kanan. Begitu juga sebaliknya

Senar menggenggam kebebasannya, namun dengan itulah yang membuatnya bisa bergerak dengan anggun nan menawan

Walaupun tak bergerak sesuai keinginannya, tak sekalipun layangan menyalahkan senar ataupun pilotnya. Mengapa? Apakah layangan senang dengan adanya rantai yang membelenggunya?

Tentu tidak. Tidak ada seorangpun yang suka kebebasannya diganggu

Layangan pun berpikir untuk bebas. Lepas dari cengkeraman tangan sang pilot dan rantai yang merenggut kebebasannya

Dia berupaya untuk memutus senar yang menopangnya. Dia pikir dengan memutus senarnya, dia akan bebas bermanuver sesuai dengan keinginannya

Lepaslah si layangan dari cengkeraman tangan pilot. Si layangan membumbung tinggi ke angkasa dengan bahagia, tak lagi menuruti kemauan pilot yang mengekangnya

Namun, angin yang kencang menampar keras layangan, terombang-ambing tak tentu arah. Layangan berusaha untuk terbang layaknya sang pilot mengendalikannya, namun tak berhasil. Senar yang menopang gerakannya tak lagi bersamanya

Si layangan koyak diterpa angin kencang, manuvernya tak segagah yang lalu, tak lagi terbang tinggi dengan lincah layaknya burung lagi

Dia lepas. Dia jatuh. Dia tak lagi tahu apa yang akan menantinya. Dihempas oleh angin, diterkam oleh burung, jatuh terhuyung-huyung tanpa mampu menjaga lagi keseimbangannya. Jatuh. Badannya robek dikoyak dahan pohon yang mencuat, menyobek-nyobek sayap yang selama ini menyangganya untuk terbang dengan bangga

Kini sang layangan hanya bisa pasrah. Sayapnya rusak, badannya koyak, tak lagi bisa kembali ke masa jayanya lagi. Orang-orang menatapnya dengan kasihan. Dirinya tak lagi berharga

Harapannya untuk lepas, keinginannya untuk bebas, justru malah menyesatkannya jatuh menjadi barang bekas. Tak ada lagi yang mau memungutnya, apalagi menerbangkannya. Si layangan merasa menyesal

Senar yang selama ini membelenggunya ternyata justru menyelamatkannya. Pilot yang dulu dia anggap diktator ternyata adalah pengayomnya, yang mengarahkannya ke masa kejayaannya. Tangisnya pecah, namun apa daya, sudah terlambat. Memang, penyesalan selalu datang belakangan

Lepas, bebas, tak berarti akan membawamu menuju kejayaan. Namun, keputusasaanlah yang menunggu di akhir jalan, diiringi dengan penyesalan


#EmpisEmpisTemanggung

#5September2022

Comments

Popular Posts