Featured
Layangan

Layangan
Terbang di angkasa
Bebas bermanuver dengan lincahnya bak burung
Akan tetapi, layangan tidaklah bebas. Senar yang dipegang manusialah yang menariknya kesana kemari dengan lincah
Layangan mau tak mau harus patuh kepada pilotnya. Pilotnya mengarahkan ke kanan, dia akan menukik ke kanan. Begitu juga sebaliknya
Senar menggenggam kebebasannya, namun dengan itulah yang membuatnya bisa bergerak dengan anggun nan menawan
Walaupun tak bergerak sesuai keinginannya, tak sekalipun layangan menyalahkan senar ataupun pilotnya. Mengapa? Apakah layangan senang dengan adanya rantai yang membelenggunya?
Tentu tidak. Tidak ada seorangpun yang suka kebebasannya diganggu
Layangan pun berpikir untuk bebas. Lepas dari cengkeraman tangan sang pilot dan rantai yang merenggut kebebasannya
Dia berupaya untuk memutus senar yang menopangnya. Dia pikir dengan memutus senarnya, dia akan bebas bermanuver sesuai dengan keinginannya
Lepaslah si layangan dari cengkeraman tangan pilot. Si layangan membumbung tinggi ke angkasa dengan bahagia, tak lagi menuruti kemauan pilot yang mengekangnya
Namun, angin yang kencang menampar keras layangan, terombang-ambing tak tentu arah. Layangan berusaha untuk terbang layaknya sang pilot mengendalikannya, namun tak berhasil. Senar yang menopang gerakannya tak lagi bersamanya
Si layangan koyak diterpa angin kencang, manuvernya tak segagah yang lalu, tak lagi terbang tinggi dengan lincah layaknya burung lagi
Dia lepas. Dia jatuh. Dia tak lagi tahu apa yang akan menantinya. Dihempas oleh angin, diterkam oleh burung, jatuh terhuyung-huyung tanpa mampu menjaga lagi keseimbangannya. Jatuh. Badannya robek dikoyak dahan pohon yang mencuat, menyobek-nyobek sayap yang selama ini menyangganya untuk terbang dengan bangga
Kini sang layangan hanya bisa pasrah. Sayapnya rusak, badannya koyak, tak lagi bisa kembali ke masa jayanya lagi. Orang-orang menatapnya dengan kasihan. Dirinya tak lagi berharga
Harapannya untuk lepas, keinginannya untuk bebas, justru malah menyesatkannya jatuh menjadi barang bekas. Tak ada lagi yang mau memungutnya, apalagi menerbangkannya. Si layangan merasa menyesal
Senar yang selama ini membelenggunya ternyata justru menyelamatkannya. Pilot yang dulu dia anggap diktator ternyata adalah pengayomnya, yang mengarahkannya ke masa kejayaannya. Tangisnya pecah, namun apa daya, sudah terlambat. Memang, penyesalan selalu datang belakangan
Lepas, bebas, tak berarti akan membawamu menuju kejayaan. Namun, keputusasaanlah yang menunggu di akhir jalan, diiringi dengan penyesalan
#EmpisEmpisTemanggung
#5September2022
Comments
Post a Comment