Featured
Menunggu Waktu
Menanti, adalah sesuatu yang sangat membosankan. Terlebih menunggu yang tak pasti, sudah barang tentu bukan hal yang menyenangkan
Sambil harap-harap cemas, yang dinanti tak kunjung datang. Hati berdebar-debar ga karuan, perasaan gak tenang. Sementara yang ditungguin kadang ga ngerasa. "Bentar, lagi otw", padahal sebenernya baru aja bangun. Tentu bikin gemas
Manusia memang sudah kodratnya ngga suka menunggu. Sukanya cepat-cepat, karena memang dulu penciptaannya manusia juga tergesa-gesa. Baru jadi kepalanya udah pengen jalan aja mbah Adam. Keturunannya juga demikian. Pengennya kalo pengen sesuatu ya segera terkabul
Tapi anehnya, meski ga suka kalo disuruh menunggu, manusia kodratnya pemalas. Suka banget kalo nunda-nunda sesuatu, walaupun akhirnya membuat orang lain menunggu. Aneh ya, ngga suka nunggu tapi demen banget bikin orang lain nunggu
Sebenarnya kita ini sedang ditungguin loh. Tapi kebanyakan orang ga tahu, atau mungkin sebenarnya tahu tapi lupa, bahwa kita ini ditungguin sama waktu. Detik demi detik berlalu, meninggalkan kita dan tak pernah datang lagi. Kita diberi hitung mundur, hanya saja tidak terlihat
Hitung mundur masing-masing orang berbeda. Ada yang hitung mundurnya 50 tahun, ada yang 100 tahun, ada yang cuma 5 menit. Dan ketika hitungan mundur itu berakhir, waktunya habis dan tak ada lagi perpanjangan waktu. Tidak kayak sepakbola, ada bonus waktunya
Ketika sudah menjemput, maut tak bisa diganggu gugat. Meskipun dia hebat, dia kuat, dia konglomerat, ketika hitungan mundurnya habis ya sudah. Tapi, meski sudah sekarat, kelihatannya bentar lagi wafat, udah bau mayat, tapi hitungan mundurnya masih lama ya sudah. Dinanti-nanti ga kunjung wafat
Sejatinya kita ini dinanti oleh mati. Masing-masing dari kita diberi waktu, diberi hitungan mundur, namun kita sendiri ga tahu sampai kapan hitungan mundur kita habis. Makanya dalam Islam kita selalu diperintahkan untuk selalu jadi orang baik, karena bahaya kalo coba-coba berbuat jelek tapi ngepasi ajal tiba
Tidak ada yang abadi di dunia ini. Yang dulunya tampan, kalo sudah 60 tahun ya jadi keriput. Yang dulunya bunga desa, cantik membuat kesengsem siapa saja, kalau sudah kepala delapan ya gak bikin kesengsem lagi
Masing-masing kita menunggu waktu. Waktu dari akhir hidup kita yang setiap detiknya berlalu. Dan ketika waktu itu habis, tak peduli seberapa hebat kita, seberapa kuat kita, seberapa kaya kita, tidak ada yang berarti lagi. Kuburanlah yang menanti
Oleh karena itu, pergunakanlah waktumu dengan baik. Jika bisa tepat waktu, kenapa harus bikin orang nunggu? Kalau bisa dikerjakan saat ini, kenapa harus nanti? Kalau bisa segera, kenapa harus nanti saja?

#EmpisEmpisTemanggung
#17Sep2022
Comments
Post a Comment