Skip to main content

Featured

Pahlawanku

Dibawah pekat gelapnya langit, terbangunlah beliau Menyambut hari, yang bahkan masih terlalu dini Kegiatannya telah dimulai sejak pagi Sambil menunggu lengsernya fajar menuju langit biru Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan Pelik pun tak jadi keluhan Semua demi keluarga yang amat beliau sayangi Apa lagi kalau bukan untuk suami dan buah hati? Di balik wajahnya yang makin keriput Rasa iba ini tumbuh sesak di dalam dada Melihat sosok beliau yang berangsur uzur Tak kuat pikirku hidupku tanpa dirinya Tanpa beliau, aku bisa apa? Tanpa beliau, aku jadi apa? Tanpa beliau, aku bukanlah apa-apa! Ibuku, pahlawanku Walau aku takkan pernah bisa membalas jasamu Setidaknya kalbuku selalu melantunkan doa padamu #EmpisEmpisTemanggung #10102022

Menunggu Waktu

Menanti, adalah sesuatu yang sangat membosankan. Terlebih menunggu yang tak pasti, sudah barang tentu bukan hal yang menyenangkan

Sambil harap-harap cemas, yang dinanti tak kunjung datang. Hati berdebar-debar ga karuan, perasaan gak tenang. Sementara yang ditungguin kadang ga ngerasa. "Bentar, lagi otw", padahal sebenernya baru aja bangun. Tentu bikin gemas

Manusia memang sudah kodratnya ngga suka menunggu. Sukanya cepat-cepat, karena memang dulu penciptaannya manusia juga tergesa-gesa. Baru jadi kepalanya udah pengen jalan aja mbah Adam. Keturunannya juga demikian. Pengennya kalo pengen sesuatu ya segera terkabul

Tapi anehnya, meski ga suka kalo disuruh menunggu, manusia kodratnya pemalas. Suka banget kalo nunda-nunda sesuatu, walaupun akhirnya membuat orang lain menunggu. Aneh ya, ngga suka nunggu tapi demen banget bikin orang lain nunggu

Sebenarnya kita ini sedang ditungguin loh. Tapi kebanyakan orang ga tahu, atau mungkin sebenarnya tahu tapi lupa, bahwa kita ini ditungguin sama waktu. Detik demi detik berlalu, meninggalkan kita dan tak pernah datang lagi. Kita diberi hitung mundur, hanya saja tidak terlihat

Hitung mundur masing-masing orang berbeda. Ada yang hitung mundurnya 50 tahun, ada yang 100 tahun, ada yang cuma 5 menit. Dan ketika hitungan mundur itu berakhir, waktunya habis dan tak ada lagi perpanjangan waktu. Tidak kayak sepakbola, ada bonus waktunya

Ketika sudah menjemput, maut tak bisa diganggu gugat. Meskipun dia hebat, dia kuat, dia konglomerat, ketika hitungan mundurnya habis ya sudah. Tapi, meski sudah sekarat, kelihatannya bentar lagi wafat, udah bau mayat, tapi hitungan mundurnya masih lama ya sudah. Dinanti-nanti ga kunjung wafat

Sejatinya kita ini dinanti oleh mati. Masing-masing dari kita diberi waktu, diberi hitungan mundur, namun kita sendiri ga tahu sampai kapan hitungan mundur kita habis. Makanya dalam Islam kita selalu diperintahkan untuk selalu jadi orang baik, karena bahaya kalo coba-coba berbuat jelek tapi ngepasi ajal tiba

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Yang dulunya tampan, kalo sudah 60 tahun ya jadi keriput. Yang dulunya bunga desa, cantik membuat kesengsem siapa saja, kalau sudah kepala delapan ya gak bikin kesengsem lagi

Masing-masing kita menunggu waktu. Waktu dari akhir hidup kita yang setiap detiknya berlalu. Dan ketika waktu itu habis, tak peduli seberapa hebat kita, seberapa kuat kita, seberapa kaya kita, tidak ada yang berarti lagi. Kuburanlah yang menanti

Oleh karena itu, pergunakanlah waktumu dengan baik. Jika bisa tepat waktu, kenapa harus bikin orang nunggu? Kalau bisa dikerjakan saat ini, kenapa harus nanti? Kalau bisa segera, kenapa harus nanti saja?

#EmpisEmpisTemanggung

#17Sep2022

Comments

Popular Posts